Kenakalan Orang Tua

Posted: 11 Desember 2008 in Artikel
Tag:

Q-ta mungkin bosan banget kalo ngomongin kenakalan remaja. Tapi, q-ta jarang ngomongin ‘kenakalan’ orangtua. Padahal, kalo mau dirunut, lumayan banyak lho kenakalan orang tua. Baik orangtua dirumah alias keluarga q-ta, maupun orang tua di masyarakat seperti : guru-guru di sekolah, orang-orang dewasa di lingkungan seq-tar, orang dewasa yang q-ta lihat di televisi, termasuk orang tua yang menjadi pejabat negara.

Sekarang gimana jadinya kalo kebanyakan orangtua (yang udah disebutin diatas) juga menyandang predikat ’nakal’ artinya, mereka tidak bisa memberikan contoh teladan kepada q-ta dalam menghadapi kehidupan ini. Jadi wajar saja jika remajanya juga nakal.

Sobat CeMuT, bukan maksud mo ngejelekin ortu q-ta. Nggak deh, ini hanya sekedar renungan aja, maksudnya betapa q-ta sering melupakan bahwa kenakalan remaja nggak bisa lepas juga dari teladan yang sudah ada. Biar adil kali ye (setuju!), masalahnya kalo q-ta ngebahas tentang kenakalan remaja biasanya suka nulis sampe berlembar-lembar and lengkap taburan faktanya, maka nggak ada salahnya kali ini, q-ta coba juga nyentil kenakalan orangtua. Moga aja mereka juga mau sadar, and mau ngerti bahwa sebenarnya kenakalan remaja adalah korban dari kenakalan ortu.

Oya, hampir lupa ngejelasin definisi nakal. Dalam kamus Bahasa Indonesia, nakal tuh artinya suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu, dsb, terutama bagi anak-anak). Nakal juga bisa berarti buruk kelakuan. Kenakalan adalah kata sifat dari nakal atau perbuatan nakal; bisa juga berarti tingkah laku yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat. Oke, sekarang q-ta coba bahas satu persatu bagaimana sebenarnya kenakalan orangtua. So, jangan kemana-mana langsung baca aja kupasan berikut ini ….

Kenakalan orangtua q-ta dirumah

Sebenarnya kalo mau fair ngelihat aksi ortu q-ta dirumah (keluarga besar q-ta), rasanya perlu juga nih baca tulisan ini, barangkali aja mereka juga mau berubah sikap, agar jangan selalu menyalahin seratus persen bahwa kenakalan remaja itu akibat q-ta nggak taat atau nggak nurut ama ortu. Sebab, seringkali ortu dirumah secara tidak langsung ngajarin q-ta untuk nakal. Tapi, tentu saja nggak semua ortu nakal, sebagaimana nggak semua remaja tuh nakal. Betul nggak!


Lalu, apa sih yang dilakuin ortu q-ta dirumah dan keluarga besar q-ta sehingga bisa disebut kenakalan orangtua?

Akhlak. Wallhu alam, apa karena terlalu sibuk atau emang orangtua q-ta nggak ngerti gimana harus berbuat atau berakhlak sesuai dengan ajaran islam. Tidak sedikit ortu yang abai dalam hal ini, padahal anak and q-ta akan belajar pertamakali ama mereka. Gimana jadinya coba, kalo mereka ngecontohin akhlak yang buruk.

Sobat CeMuT, definisi akhlak menurut Muhammad Husain Abdullah. Secara bahasa akhlak berasal dari kata khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thab’u), sedangkan menurut istilah (makna syariah) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala melaksanakan segala aktivitasnya.


Nah, para ortu q-ta di rumah apa udah memberikan teladan dalam menjalankan perintah Allah. Bukan maksud ngejelek-jelekin, tapi emang faktanya emang ada yang begitu. Dalam hubungan bertetangga, banyak ortu yang secara tidak langsung ngajarin anaknya nggak baik ama tetangga. Misalnya, kelakuan ortu yang kurang peduli ama tetangga, gimana mo peduli, saban hari pulang kerja langsung pergi maunjun papuyu, pas ketemu eh malah bertengkar terus berantem hanya gara-gara sepele, atau kasak-kusuk ngomongin atau ngegosipin tetangga. Gimana coba kalo begini? Bukankan akan menjadi ’pelajaran yang baik’ bagi q-ta. Padahal berbuat baik dengan tetangga adalah ajaran dalam islam, bahkan q-ta dilarang mengganggu tetangga q-ta. Nabi pernah bersabda : ”tidak akan masuk surga orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya” (HR. Muslim).

Mengabaikan pelaksanaan syariah. Urusan sholat sering jadi masalah, bayangin kalo ortu q-ta sholat aja sesukanya, atau bahkan nggak sholat sama sekali. Tentunya hal ini akan sangat memberikan dampak bagi anak-anaknya. Apalagi kalo sekedar nyuruh atau ngingatkan sholat aja nggak pernah. Wah, nggak adil deh rasanya kalo kemudian hari nyalahin anak yang nggak mau sholat. Wong, ortunya aja nggak sholat, boro-boro nyruh atau ngebimbing tuk sholat. Kasihan kan. Mestinya, sejak dini ortu bisa memberikan contoh atau pembiasaan kepada anak2. misalnya ketika suara adzan dikumandangkan, dengan mengajak mereka berwudhu dan sholat bersama.


Sobat CeMuT, kalo ortu q-ta dalam pelaksanaan syariahnya lemah, q-ta kudu ngingatin mereka agar mo ngaji dan taat ama syariah. Misalnya dalam hal pakaian, banyak ortu q-ta nggak ngerti bahwa islam juga ngajarin tatacara berbusana atau tentang wajibnya menggunakan jilbab dan khimar (kerudung) jika keluar rumah atau ada orang asing (bukan mahram) yang bertamu kerumah. Soalnya, mereka berkerudung dan berjilbab tuh kalo mau sholat atau mo kepengajian aja. Duh, menyedihkan banget deh. Sehingga wajar saja jika hari ini kebanyakan remaja muslim juga buka-bukaan aurat seenaknya saat keluar rumah. Masalahnya ortu aja nggak ngerti batasan aurat dan cara nutup aurat yang bener gimana apalagi nyuruh. Parahkan!


Ini baru soal shalat and berbusana. Kayaknya banyak lagi deh pelaksanaan syariah islam yang belum dibiasakan di tengah keluarga q-ta. Misalnya, tentang kewajiban nuntut ilmu dan berdakwah. Ortu jaman sekarang nggak bangga ketika anaknya istiqomah pake jilbab dan kerudung, rajin ngaji, bisa baca al-quran dan dakwahnya semangat. Malahan mereka bangga jika anaknya pinter nyanyi dan juara kontes AFI, Indonesian Idol, KDI dan ajang sejenisnya. Merasa risih kalo anaknya ’hari gini belum punya pacar’. Bahkan ada ortu yang semangat and gigih mengarahkan and ngasih fasilitas yang lebih untuk hal yang begituan. Gimana coba, dunia udah terbalik deh kayanya!


Kasih sayang dan perhatian. Bila anak tumbuh menjadi liar, keras, pendendam, dan tidak punya sikap penyayang, tentu semua itu tidak muncul dengan sendirinya. Para ortulah yang telah merekayasa semuanya. Karena sebagaimana nabi saw pernah mengatakan bahwa (artinnya) “semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah; orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (HR. al-Bukhari).

Karena itu, tidak ada ‘horor’ yang lebih menakutkan bagi anak-anak selain kehilangan kasih sayang. Karena itu pula, islam telah mewajibkan orangtua untuk mengekspresikan kasih sayang mereka pada keluarganya. Baginda nabi saw mengatakan “Orang yang paling baik di antara kamu ialah yang paling penyayang kepada keluarganya”. Maksudnya, dengan cara melindungi mereka dari siksa api neraka kelak.

Gimana jadinya, kalo bokap pergi pagi lalu pulang malem, tiba dirumah ketika q-ta udah pules. Nyokap juga sibuk ngurusin bisnis, sorenya arisan. Sejak kecil q-ta dititipin ama orla (orang lain) yang kadang nggak mau ngerti perasaan q-ta, atau seharian ama pembantu. Katanya sih, sibuk dan sibuk nyariin q-ta duit. Itulah barangkali alasan yang sering keluar dari mulut ortu q-ta, padahal yang q-ta butuhin bukan sekedar duit tapi yang lebih utama perhatian dan kasih sayang man!. Yang lebih parah lagi ada ortu yang tega menyiksa anak kandungnya sendiri. Kalo yang begini bukan lagi kenakalan ortu. Tapi, kejahatan ortu kepada anaknya.

Suatu ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. “Wahai ayah, apa yang terbaik bagi manusia?”. “Agama, kata Luqman”, kalau yang dua? “Agama dan Harta” kalau tiga? “Agama, harta dan rasa malu”, bila empat? “Agama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia”, jika lima? Agama, harta, rasa malu, akhlak yang mulia dan dermawan” Anaknya bertanya lagi, “jika enam?. Luqman menjawab, “Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seseorang hamba maka dia adalah orang yang bertaqwa, dan Allah akan menolongnya dari gangguan setan”.

Sobat CeMuT, q-ta ngarepin banget akan dialog antara q-ta dan ortu, sebagaimana yang dicontohkan Luqman kepada anaknya. Perhatian dan kepedulian yang seperti inilah yang q-ta inginkan.

Demikian barangkali friend, garis besar isi dari sebuah buku kecil (dengan beberapa tambahan) karangan O. Solihin yang berjudul ‘kenakalan orangtua’. Akhirnya, q-ta sebagai anak dari kedua ortu q-ta, harus bisa, memilah-milih, jika yg dilakukan kedua ortu q-ta itu kebaikan, q-ta meski ambil. Tapi apabila yang dilakukannya adalah kemaksiatan, sebaiknya engga usah diikutin dech! Tapi q-ta mesti coba juga utuk mengembalikannya ke jalan yang benar yaitu di jalan Allah. Good Luck !!

(Buletin CeMuT edisi 4tahun 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s